Title : GEEK BOY (chapter 2)
Main Cast : Lucas (boy) x Elisa
(girl)
Genre : Angst, Crime (?), Romance
(dikit)
Summary : Menjadi laki-laki geek
artinya kau adalah laki-laki terlemah di sekolah ini. Pembully-an, siksaan, dan
hukuman akan terus menghantuimu. “Dasar lemah!”. “Ampuuun
kumohon…ma-maaf..kan.. a-akuu”. “Pergi sana! Memuakkan! Mengganggu pemandangan
saja!”. “Maaf saja, aku tak tertarik denganmu”. “Dorr…dorr…”.
“Aaaaaaaarrghhh………” “Jangan matiiiii……” Kisah cinta yang aneh terjadi antara
dua orang pengidap penyakit serius. Akankah mereka bisa mengerti kata yang tabu
bagi mereka seperti cinta dan kasih sayang? Bisakah mereka bersatu?
Pagi
yang cerah, sinar mentari memancar dengan penuh kelembutan, tapi semua itu tak
dihiraukan oleh manusia-manusia yang kini telah memadati ibu kota yang penuh
sesak. Macet, kata yang sudah lumrah bagi seluruh penduduk di kota ini setiap
harinya. “Tiada hari tanpa macet, jika tidak ada macet maka bukan Jakarta”
mungkin semboyan itu amat pantas bila dinobatkan pada kota ini. Jam masih
menunjukkan pukul 06.00 pagi, dan suasana di jalan raya layaknya malam tahun
baru tentunya tanpa ada debuman keras khas petasan dan sebagainya. Well,
busway, mini bus, motor, mobil semua menjadi satu di jalanan yang tak bisa
dikatakan luas ini. Bagaimana tidak? Saat ini semua orang memilih untuk naik
kendaraan pribadi, apalagi karena sesaknya jalan raya mendorong mereka ingin
memiliki mobil. Dan sudah dapat di tebak, bahwa satu orang memiliki satu mobil.
Mungkin itu bukanlah masalah yang terlalu penting. Namun, bagaimana jika ribuan
orang yang ingin melewati jalan yang terletak di jantung kota ini berfikiran
serupa? Maka kata macet selalu menghantui, kapanpun, dan dimanapun selagi masih
melingkupi kota Jakarta.
Tak
jauh dari keramaian penuh sesak itu, ada seorang pemuda pucat dengan rambut
sedikit berantakan, berseragam sekolah dengan tas punggung hitam dan bersepatu
kets buluk sedang berjalan santai. Tangannya ia masukkan ke dalam saku
celananya. Oh, jangan lupakan tatapan super datar yang selalu bertengger di
wajah pucatnya. Ia berjalan penuh keheningan, tapi entah mengapa orang-orang di
sekitar tampaknya merasakan ada hawa aneh nan menusuk saat lelaki pucat itu
melintas. Dengan perasaan takut mereka mencoba untuk tidak mencari masalah
dengan lelaki itu. Tidak wajar memang, di tengah kesibukan kota seramai ini,
hawa aneh yang dibawa lelaki pucat itu mampu mengalihkan perhatian mereka meski
hanya sejenak. Jangan sekali-sekali kalian berfikir pria pucat ini adalah salah
satu dari koloni jin atau sebangsanya, ayolah di dunia modern zaman sekarang
hanya orang-orang bodoh yang mempercayai hal tak ilmiah semacam itu.
Lama
ia berjalan. Melewati taman kota, menyebrangi perempatan, melewati
gedung-gedung raksasa yang saat ini menjadi faktor utama penghasilan penduduk
kota ini, namun ia terus berjalan dengan penampilan yang masih sama seperti
sebelumnya. Mungkin ini satu-satunya cara agar bisa terbebas dari riuh sesak di
jalan raya, dan mungkin hanya lelaki pucat ini satu-satunya manusia yang mau
berjalan sejauh ini hanya demi menghindari jalan raya yang penuh sesak. Lelaki
pucat itu masih keukeuh mempertahankan tatapan datarnya, tak lupa hawa aneh
menusuk yang ditujukan lewat tatapan matanya. Hingga membuat tak seorang pun
berani walau sekedar menyapa.
“Tap…”
Akhirnya ia sampai di tempat yang
sedari tadi menjadi tujuan nya melangkah. Bangunan megah klasik dengan banyak
lorong serta ruang di dalamnya. Ya, inilah sekolahnya. Bangunan yang sangat ia
benci karena harus bertemu ratusan orang, tetapi hanya disinilah ia akan bisa
meraih tujuan utamanya sedikit demi sedikit. Pukul 07.00 tepat ia sampai di
sekolah elit ini, dan kelasnya masih akan dimulai 15 menit lagi. Tak banyak
yang sudah datang di sekolah di jam seperti ini. Mereka masih terjebak macet
mungkin? Atau masih terlelap di singgasana masing-masing?
Lelaki
pucat –masih dengan wajah datarnya- itu melangkah memasuki gerbang utama dan
berlanjut melewati lorong-lorong yang panjang. Kelasnya ada di paling ujung,
kelas X 2-IPS. Ia menuju ke kelasnya, terlihat ada seorang gadis disana, dan
dengan tanpa suara ia pun berjalan dan duduk di bangku paling pojok belakang.
Tak dihiraukannya seorang gadis yang sedang memegangi kaca sambil membenahi
bentuk rambutnya. Sepertinya gadis itu pun tak menyadari ada seseorang yang
baru saja melewatinya.
“Aaaaaaa… Ya ampun kau
mengagetkanku! Sejak kapan kau disini?!” Teriak gadis itu tepat di depan wajahnya. Ia
duduk di bangku depan lelaki pucat itu. Sedari tadi pun ia masih merasa
sendirian di kelas ini sampai ia merasakan hawa dingin menusuk dari belakang.
Siapa yang tak terkejut dengan kemunculan tiba-tiba seseorang yang bahkan tak
dapat kita sadari? Apalagi ia memancarkan aura pekat dan dingin menusuk.
“……” Pria pucat dengan nametag
Daniel Lucas itu hanya memandang datar jendela di sebelahnya, tak sedikitpun ia
hiraukan protes dari seorang gadis yang masih shock karena ulahnya.
“Yaaakkk kenapa tidak menjawab?
Kau tidak dengar hah? Yaaa pucat! Jangan hiraukan aku! Aku sedang bicara padamu
disini”
“……”
“Halooo? Apa kau membeku secara
mendadak?” Tanya gadis itu sambil mengibas-kibas kan tangannya ke hadapan
Lucas.
“……” tetap tak ada jawaban. Lucas masih stay dengan wajah pokerface-nya
Gadis
berambut panjang yang biasa disebut Elisa atau Lisa itu hanya mengerucutkan
bibirnya dan beralih menatap ke depan sambil menggerutu.
‘Ish..dingin sekali sih dengan
teman baru, aku kan hanya shock atas kedatangannya. Oh apa dia bisu atau mungkin
tuli?! Tidak..tidak..tempo hari dia menjawab “aku” saat kutanya siapa itu
Daniel Lucas. Lalu kenapa? Hihihi menarik’ Gadis itu tersenyum aneh untuk
sesaat, lalu kembali dengan kegiatan awalnya. Bercermin.
Satu
persatu murid-murid mulai berdatangan dan duduk di bangku masing-masing. Namun
ada satu bangku yang kosong. Mungkin kalian bisa dengan mudah menebak bangku
mana itu. Ya, tepat sekali, bangku di sebelah Daniel Lucas. Tak seorang pun mau
duduk bersebelahan dengan nya. Tak perlu lama menunggu, kegaduhan di kelas itu
pun sirna karena kehadiran sosok langsing berbadan tegap yang memakai pakaian
err cukup mengundang mata kaum adam. Beberapa diantara mereka bersiul sambil
memperhatikan lekukan-lekukan indah yang bisa mereka nikmati. Tentu saja Lucas
merupakan pengecualian untuk semua itu. Dan kegiatan sekolah kala itu pun
akhirnya berakhir di hari menjelang petang.
.
.
.
.
.
Hari
demi hari pun berlalu. Para murid berangsur-angsur tanpa canggung lagi memulai
pertemanan, mengikat persahabatan, membentuk genk atau kelompok, dan lain
sebagainya layaknya hal biasa yang terjadi dikalangan murid di sekolah baru
mereka. Dan Lucas yang sama sekali tak pernah membuka diri pada siapapun jadi
semakin terkucil. Ia terlihat sangat menyedihkan dengan kesendiriannya. Tapi,
yah seperti biasa… bukan Lucas namanya jika memperdulikan hal tidak penting
semacam itu. Ia hanya terus belajar dan belajar tanpa memperdulikan teman atau
apalah yang berhubungan dengan hal tersebut.
Namun ketertutupannya membuatnya jadi kurang ditakuti siswa-siswa di
sekitarnya lagi. Kini mereka hanya menganggap Lucas murid biasa. Bukan, lebih
tepatnya Lucas si murid jenius dengan bantuan beasiswa yang biasa-biasa saja.
Bahkan murid-murid mulai berpikir bahwa Lucas tidaklah pantas berada di lingkungan
mereka. Lucas hanyalah murid berkedok beasiswa. Siswa miskin dengan rumah kecil
dan tampang sedikit berantakan, sepatu kets buluk, kulit pucat, dan kini telah
memakai kacamata tebal karena terlalu banyak membaca buku di perpustakaan.
Penampilan seperti itu, siapa yang mau menghiraukannya? Mungkin dalam kurun
waktu tak lama lagi, Lucas akan mengalami diskriminasi total.
Kata
“bullying” sudah tak asing lagi di telinga manusia masa kini. Terlebih bagi
pelajar-pelajar sok berkuasa dengan alasan pundi-pundi uang yang mereka miliki.
Mungkin perlu digaris bawahi menyangkut ‘harta mereka’ yang sepenuhnya masih
hak milik orang tua mereka masing-masing. Oh, mereka perlu diingatkan, bahwa
sampai saat ini ongkos jajan pun mereka masih mengemis pada orang tua mereka.
Tak tahu malu memang, tapi yahhh… hal itu sudah menjadi kebiasaan seiring
berlalunya waktu. Kapanpun dan dimanapun, siswa dengan orang tua yang paling
berpengaruh di sekolah, bahkan jika sampai sekolah pun sampai bergantung dari
padanya, maka bisa dipastikan siswa itu memiliki bakat menjadi seorang
berandalan. Seperti saat ini, seorang lelaki berbadan tegap, tinggi,dengan
rambut bagian depan yang dijadikan jambul serta diwarnai dark brown tengah
berjalan penuh keangkuhan di sepanjang lorong-lorong kelas. Penampilannya
sungguh sangat pantas bila diberi label ‘bad boy’. Seragam yang dikeluarkan,
dasi yang tak terpakai sempurna, serta kerah baju yang dinaikkan semakin
menambah kesan yang kental bahwa ia bukanlah pria baik-baik. Tentu semua orang
tau siapa dia, orang tua anak berandal ini adalah salah satu penyumbang terkaya
di sekolah tempat ia berada. Bila sekolah kehilangan orang tua semacam itu,
bisa dipastikan sekolah megah ini gulung tikar. Tak hanya itu, dibelakangnya
pun juga tak sedikit yang berpakaian serta berjalan sama angkuhnya dengan
lelaki ini. Bisa dipastikan mereka adalah para pengikutnya. Semua murid di
lorong itu hanya memandang takut sekaligus kagum dengan aura kekuasaan yang
dikeluarkan kelompok yang paling disegani itu, dan juga wajah pemimpin mereka
yang tampan tentunya. Mereka terlihat sedang mencari seseorang, dengan langkah
gusar, pria paling depan yang bisa kita ambil kesimpulan bahwa ialah bos di
genk ini, meninju salah satu murid tak bersalah sebagai pelampiasan
kemarahannya.
“BUAKKHHH… Mana Daniel Lucas?!!!”
“Arghh.. ak-aku t-tid-aakkhh
ta-u…” kata salah satu pria yang menjadi korban itu dengan tergagap menahan
sakit
“BUGGHHH…PLAKKK…DUAKKK… Aku
bilang dimana dia?!! Beraninya kau! Menantangku eoh!! Cepat beritau akuu!”
teriakan nya menggema sampai ke seluruh lorong dan membuat para murid hanya
menatap ngeri pada kejadian pukul-pukulan itu. Mau menolong tak akan sanggup,
mungkin saja bukannya selamat mereka malah berakhir lebih parah dari pria tadi.
Maka dari itu mereka hanya diam menonton.
“M-mung-kinh.. d-di p-per- hhh….
Per-pustakaan”
“BRUKHH”
“Aaarrghhh…” Pria berkuasa dengan
identitas Rafly Alfanias itu melempar tubuh kurus yang tadi ia pukuli
sembarangan. Tanpa ba-bi-bu lagi, ia pun segera menuju perpustakaan tempat
orang yang sedang dicarinya berada. Ia dan genk nya dengan cepat menerobos
kerumunan disekitar lorong yang akan menuntunnya ke lantai atas dimana
perpustakaan minim murid itu berada.
“BRAAAKKKK……” ia membuka pintu
itu ganas. Matanya memencari-cari dengan lapar dimana orang itu sekarang,
pandangannya pun terhenti di satu sudut. Seringai menakutkan pun mulai terukir
di wajahnya yang bisa dibilang tampan. Disana, disudut perpustakaan, terlihat
seonggok anak manusia sedang menunduk focus membaca sebuah buku tebal, kacamata
tebalnya pun tak jarang sering melorot dan dibenahinya kembali agar mata minus
nya bisa membaca tulisan demi tulisan kecil itu dengan jelas. Ia sama sekli
tidak menyadari tatapan orang yang bernafsu ingin menghabisinya itu. Oh bahkan
suara dobrakan pintu sekeras itu pun belum cukup untuk mengalihkan dunia nya
dari buku tebal yang membosankan. Hingga sebuah suara mengintrupsi kegiatannya.
“DANIEL LUCAS!”
Teriak pria itu sambil
menyeringai tajam.
.
.
.
.
TBC
Hosh…hosh..hosh..
maafkan author jika ini terlalu sedikit. Mood saya benar-benar susah
dikendalikan, jika tidak mood maka berakhirlh cerita ini tidak lanjut. #PLAKKK
ohiya sebelumnya, aku minta maaf jika cerita ini tidak sesuai pesanan. Sebenarnya
ada seseorang yang sangat berharga bagi author yang meminta author membuat
sebuah cerita, tapi dia sama sekali tidak suka cerita yang sadis. Maafkan daku,
daku lupa sekali kalo kau tidak suka yang sadis-sadis *bow . Tapi mau bgaimana
lagi, sudah terlanjur jadi -,- maaf bila masih jelek. Author belum
berpengalaman, sebelumnya author cuman suka baca-baca doang. Baru ini ada
niatan buat :D. chapter depan mungkin akan saya sertai gambar ;) tapi masih
mungki yaaaaaa wkwkwk oke big thanks buat yg uda baca *bow. Mohon komentarnya
^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar