Selasa, 07 Juli 2015

GEEK BOY chapter 2



Title : GEEK BOY (chapter 2)
Main Cast : Lucas (boy) x Elisa (girl)
Genre : Angst, Crime (?), Romance (dikit)
Summary : Menjadi laki-laki geek artinya kau adalah laki-laki terlemah di sekolah ini. Pembully-an, siksaan, dan hukuman akan terus menghantuimu. “Dasar lemah!”. “Ampuuun kumohon…ma-maaf..kan.. a-akuu”. “Pergi sana! Memuakkan! Mengganggu pemandangan saja!”. “Maaf saja, aku tak tertarik denganmu”. “Dorr…dorr…”. “Aaaaaaaarrghhh………” “Jangan matiiiii……” Kisah cinta yang aneh terjadi antara dua orang pengidap penyakit serius. Akankah mereka bisa mengerti kata yang tabu bagi mereka seperti cinta dan kasih sayang? Bisakah mereka bersatu?

          Pagi yang cerah, sinar mentari memancar dengan penuh kelembutan, tapi semua itu tak dihiraukan oleh manusia-manusia yang kini telah memadati ibu kota yang penuh sesak. Macet, kata yang sudah lumrah bagi seluruh penduduk di kota ini setiap harinya. “Tiada hari tanpa macet, jika tidak ada macet maka bukan Jakarta” mungkin semboyan itu amat pantas bila dinobatkan pada kota ini. Jam masih menunjukkan pukul 06.00 pagi, dan suasana di jalan raya layaknya malam tahun baru tentunya tanpa ada debuman keras khas petasan dan sebagainya. Well, busway, mini bus, motor, mobil semua menjadi satu di jalanan yang tak bisa dikatakan luas ini. Bagaimana tidak? Saat ini semua orang memilih untuk naik kendaraan pribadi, apalagi karena sesaknya jalan raya mendorong mereka ingin memiliki mobil. Dan sudah dapat di tebak, bahwa satu orang memiliki satu mobil. Mungkin itu bukanlah masalah yang terlalu penting. Namun, bagaimana jika ribuan orang yang ingin melewati jalan yang terletak di jantung kota ini berfikiran serupa? Maka kata macet selalu menghantui, kapanpun, dan dimanapun selagi masih melingkupi kota Jakarta.
          Tak jauh dari keramaian penuh sesak itu, ada seorang pemuda pucat dengan rambut sedikit berantakan, berseragam sekolah dengan tas punggung hitam dan bersepatu kets buluk sedang berjalan santai. Tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Oh, jangan lupakan tatapan super datar yang selalu bertengger di wajah pucatnya. Ia berjalan penuh keheningan, tapi entah mengapa orang-orang di sekitar tampaknya merasakan ada hawa aneh nan menusuk saat lelaki pucat itu melintas. Dengan perasaan takut mereka mencoba untuk tidak mencari masalah dengan lelaki itu. Tidak wajar memang, di tengah kesibukan kota seramai ini, hawa aneh yang dibawa lelaki pucat itu mampu mengalihkan perhatian mereka meski hanya sejenak. Jangan sekali-sekali kalian berfikir pria pucat ini adalah salah satu dari koloni jin atau sebangsanya, ayolah di dunia modern zaman sekarang hanya orang-orang bodoh yang mempercayai hal tak ilmiah semacam itu.
          Lama ia berjalan. Melewati taman kota, menyebrangi perempatan, melewati gedung-gedung raksasa yang saat ini menjadi faktor utama penghasilan penduduk kota ini, namun ia terus berjalan dengan penampilan yang masih sama seperti sebelumnya. Mungkin ini satu-satunya cara agar bisa terbebas dari riuh sesak di jalan raya, dan mungkin hanya lelaki pucat ini satu-satunya manusia yang mau berjalan sejauh ini hanya demi menghindari jalan raya yang penuh sesak. Lelaki pucat itu masih keukeuh mempertahankan tatapan datarnya, tak lupa hawa aneh menusuk yang ditujukan lewat tatapan matanya. Hingga membuat tak seorang pun berani walau sekedar menyapa.
“Tap…”
Akhirnya ia sampai di tempat yang sedari tadi menjadi tujuan nya melangkah. Bangunan megah klasik dengan banyak lorong serta ruang di dalamnya. Ya, inilah sekolahnya. Bangunan yang sangat ia benci karena harus bertemu ratusan orang, tetapi hanya disinilah ia akan bisa meraih tujuan utamanya sedikit demi sedikit. Pukul 07.00 tepat ia sampai di sekolah elit ini, dan kelasnya masih akan dimulai 15 menit lagi. Tak banyak yang sudah datang di sekolah di jam seperti ini. Mereka masih terjebak macet mungkin? Atau masih terlelap di singgasana masing-masing?
          Lelaki pucat –masih dengan wajah datarnya- itu melangkah memasuki gerbang utama dan berlanjut melewati lorong-lorong yang panjang. Kelasnya ada di paling ujung, kelas X 2-IPS. Ia menuju ke kelasnya, terlihat ada seorang gadis disana, dan dengan tanpa suara ia pun berjalan dan duduk di bangku paling pojok belakang. Tak dihiraukannya seorang gadis yang sedang memegangi kaca sambil membenahi bentuk rambutnya. Sepertinya gadis itu pun tak menyadari ada seseorang yang baru saja melewatinya.
“Aaaaaaa… Ya ampun kau mengagetkanku! Sejak kapan kau disini?!”  Teriak gadis itu tepat di depan wajahnya. Ia duduk di bangku depan lelaki pucat itu. Sedari tadi pun ia masih merasa sendirian di kelas ini sampai ia merasakan hawa dingin menusuk dari belakang. Siapa yang tak terkejut dengan kemunculan tiba-tiba seseorang yang bahkan tak dapat kita sadari? Apalagi ia memancarkan aura pekat dan dingin menusuk.
“……” Pria pucat dengan nametag Daniel Lucas itu hanya memandang datar jendela di sebelahnya, tak sedikitpun ia hiraukan protes dari seorang gadis yang masih shock karena ulahnya.
“Yaaakkk kenapa tidak menjawab? Kau tidak dengar hah? Yaaa pucat! Jangan hiraukan aku! Aku sedang bicara padamu disini”
“……”
“Halooo? Apa kau membeku secara mendadak?” Tanya gadis itu sambil mengibas-kibas kan tangannya ke hadapan Lucas.
“……” tetap tak ada  jawaban. Lucas masih stay dengan wajah pokerface-nya
          Gadis berambut panjang yang biasa disebut Elisa atau Lisa itu hanya mengerucutkan bibirnya dan beralih menatap ke depan sambil menggerutu.
‘Ish..dingin sekali sih dengan teman baru, aku kan hanya shock atas kedatangannya. Oh apa dia bisu atau mungkin tuli?! Tidak..tidak..tempo hari dia menjawab “aku” saat kutanya siapa itu Daniel Lucas. Lalu kenapa? Hihihi menarik’ Gadis itu tersenyum aneh untuk sesaat, lalu kembali dengan kegiatan awalnya. Bercermin.
          Satu persatu murid-murid mulai berdatangan dan duduk di bangku masing-masing. Namun ada satu bangku yang kosong. Mungkin kalian bisa dengan mudah menebak bangku mana itu. Ya, tepat sekali, bangku di sebelah Daniel Lucas. Tak seorang pun mau duduk bersebelahan dengan nya. Tak perlu lama menunggu, kegaduhan di kelas itu pun sirna karena kehadiran sosok langsing berbadan tegap yang memakai pakaian err cukup mengundang mata kaum adam. Beberapa diantara mereka bersiul sambil memperhatikan lekukan-lekukan indah yang bisa mereka nikmati. Tentu saja Lucas merupakan pengecualian untuk semua itu. Dan kegiatan sekolah kala itu pun akhirnya berakhir di hari menjelang petang.
.
.
.
.
.
          Hari demi hari pun berlalu. Para murid berangsur-angsur tanpa canggung lagi memulai pertemanan, mengikat persahabatan, membentuk genk atau kelompok, dan lain sebagainya layaknya hal biasa yang terjadi dikalangan murid di sekolah baru mereka. Dan Lucas yang sama sekali tak pernah membuka diri pada siapapun jadi semakin terkucil. Ia terlihat sangat menyedihkan dengan kesendiriannya. Tapi, yah seperti biasa… bukan Lucas namanya jika memperdulikan hal tidak penting semacam itu. Ia hanya terus belajar dan belajar tanpa memperdulikan teman atau apalah yang berhubungan dengan hal tersebut.  Namun ketertutupannya membuatnya jadi kurang ditakuti siswa-siswa di sekitarnya lagi. Kini mereka hanya menganggap Lucas murid biasa. Bukan, lebih tepatnya Lucas si murid jenius dengan bantuan beasiswa yang biasa-biasa saja. Bahkan murid-murid mulai berpikir bahwa Lucas tidaklah pantas berada di lingkungan mereka. Lucas hanyalah murid berkedok beasiswa. Siswa miskin dengan rumah kecil dan tampang sedikit berantakan, sepatu kets buluk, kulit pucat, dan kini telah memakai kacamata tebal karena terlalu banyak membaca buku di perpustakaan. Penampilan seperti itu, siapa yang mau menghiraukannya? Mungkin dalam kurun waktu tak lama lagi, Lucas akan mengalami diskriminasi total.
Kata “bullying” sudah tak asing lagi di telinga manusia masa kini. Terlebih bagi pelajar-pelajar sok berkuasa dengan alasan pundi-pundi uang yang mereka miliki. Mungkin perlu digaris bawahi menyangkut ‘harta mereka’ yang sepenuhnya masih hak milik orang tua mereka masing-masing. Oh, mereka perlu diingatkan, bahwa sampai saat ini ongkos jajan pun mereka masih mengemis pada orang tua mereka. Tak tahu malu memang, tapi yahhh… hal itu sudah menjadi kebiasaan seiring berlalunya waktu. Kapanpun dan dimanapun, siswa dengan orang tua yang paling berpengaruh di sekolah, bahkan jika sampai sekolah pun sampai bergantung dari padanya, maka bisa dipastikan siswa itu memiliki bakat menjadi seorang berandalan. Seperti saat ini, seorang lelaki berbadan tegap, tinggi,dengan rambut bagian depan yang dijadikan jambul serta diwarnai dark brown tengah berjalan penuh keangkuhan di sepanjang lorong-lorong kelas. Penampilannya sungguh sangat pantas bila diberi label ‘bad boy’. Seragam yang dikeluarkan, dasi yang tak terpakai sempurna, serta kerah baju yang dinaikkan semakin menambah kesan yang kental bahwa ia bukanlah pria baik-baik. Tentu semua orang tau siapa dia, orang tua anak berandal ini adalah salah satu penyumbang terkaya di sekolah tempat ia berada. Bila sekolah kehilangan orang tua semacam itu, bisa dipastikan sekolah megah ini gulung tikar. Tak hanya itu, dibelakangnya pun juga tak sedikit yang berpakaian serta berjalan sama angkuhnya dengan lelaki ini. Bisa dipastikan mereka adalah para pengikutnya. Semua murid di lorong itu hanya memandang takut sekaligus kagum dengan aura kekuasaan yang dikeluarkan kelompok yang paling disegani itu, dan juga wajah pemimpin mereka yang tampan tentunya. Mereka terlihat sedang mencari seseorang, dengan langkah gusar, pria paling depan yang bisa kita ambil kesimpulan bahwa ialah bos di genk ini, meninju salah satu murid tak bersalah sebagai pelampiasan kemarahannya.
“BUAKKHHH… Mana Daniel Lucas?!!!”
“Arghh.. ak-aku t-tid-aakkhh ta-u…” kata salah satu pria yang menjadi korban itu dengan tergagap menahan sakit
“BUGGHHH…PLAKKK…DUAKKK… Aku bilang dimana dia?!! Beraninya kau! Menantangku eoh!! Cepat beritau akuu!” teriakan nya menggema sampai ke seluruh lorong dan membuat para murid hanya menatap ngeri pada kejadian pukul-pukulan itu. Mau menolong tak akan sanggup, mungkin saja bukannya selamat mereka malah berakhir lebih parah dari pria tadi. Maka dari itu mereka hanya diam menonton.
“M-mung-kinh.. d-di p-per- hhh…. Per-pustakaan”
“BRUKHH”
“Aaarrghhh…” Pria berkuasa dengan identitas Rafly Alfanias itu melempar tubuh kurus yang tadi ia pukuli sembarangan. Tanpa ba-bi-bu lagi, ia pun segera menuju perpustakaan tempat orang yang sedang dicarinya berada. Ia dan genk nya dengan cepat menerobos kerumunan disekitar lorong yang akan menuntunnya ke lantai atas dimana perpustakaan minim murid itu berada.
“BRAAAKKKK……” ia membuka pintu itu ganas. Matanya memencari-cari dengan lapar dimana orang itu sekarang, pandangannya pun terhenti di satu sudut. Seringai menakutkan pun mulai terukir di wajahnya yang bisa dibilang tampan. Disana, disudut perpustakaan, terlihat seonggok anak manusia sedang menunduk focus membaca sebuah buku tebal, kacamata tebalnya pun tak jarang sering melorot dan dibenahinya kembali agar mata minus nya bisa membaca tulisan demi tulisan kecil itu dengan jelas. Ia sama sekli tidak menyadari tatapan orang yang bernafsu ingin menghabisinya itu. Oh bahkan suara dobrakan pintu sekeras itu pun belum cukup untuk mengalihkan dunia nya dari buku tebal yang membosankan. Hingga sebuah suara mengintrupsi kegiatannya.
“DANIEL LUCAS!”
Teriak pria itu sambil menyeringai tajam.
.
.
.
.

TBC
Hosh…hosh..hosh.. maafkan author jika ini terlalu sedikit. Mood saya benar-benar susah dikendalikan, jika tidak mood maka berakhirlh cerita ini tidak lanjut. #PLAKKK ohiya sebelumnya, aku minta maaf jika cerita ini tidak sesuai pesanan. Sebenarnya ada seseorang yang sangat berharga bagi author yang meminta author membuat sebuah cerita, tapi dia sama sekali tidak suka cerita yang sadis. Maafkan daku, daku lupa sekali kalo kau tidak suka yang sadis-sadis *bow . Tapi mau bgaimana lagi, sudah terlanjur jadi -,- maaf bila masih jelek. Author belum berpengalaman, sebelumnya author cuman suka baca-baca doang. Baru ini ada niatan buat :D. chapter depan mungkin akan saya sertai gambar ;) tapi masih mungki yaaaaaa wkwkwk oke big thanks buat yg uda baca *bow. Mohon komentarnya ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar