Jumat, 03 Juli 2015

GEEK BOY



Title : GEEK BOY
Main Cast : Lucas (boy) x Elisa (girl)
Genre : Angst, Crime (?), Romance (dikit)
Summary : Menjadi laki-laki geek artinya kau adalah laki-laki terlemah di sekolah ini. Pembully-an, siksaan, dan hukuman akan terus menghantuimu. “Dasar lemah!”. “Ampuuun kumohon…ma-maaf..kan.. a-akuu”. “Pergi sana! Memuakkan! Mengganggu pemandangan saja!”. “Maaf saja, aku tak tertarik denganmu”. “Dorr…dorr…”. “Aaaaaaaarrghhh………” “Jangan matiiiii……” Kisah cinta yang aneh terjadi antara dua orang pengidap penyakit serius. Akankah mereka bisa mengerti kata yang tabu bagi mereka seperti cinta dan kasih sayang? Bisakah mereka bersatu?


 
GEEK BOY
PERTEMUAN PERTAMA


Belanda, 27 Januari 2000. 00:00 PM
          Malam yang kelam. Ditemani sinar rembulan yang hangat, namun disertai angin dan badai maha dahsyat. Kala itu langit menangis dengan kuatnya. Petir menyambar dengan bengisnya. Seolah langit bernafsu ingin menghancurkan apa yang ada di bawahnya. Ya, bumi yang sudah sangat tua ini. Juga yang telah menyediakan tempat bagi berbagai macam manusia dan makhluk lainnya, yang diantaranya ada pula manusia-manusia licik yang tak bermoral, berdarah dingin, dan  juga kejam. Tapi, kejamnya mereka pun bukan tanpa alasan. Masa lalu yang kelam, dan tak kalah bengis itulah yang mendorong manusia-manusia keji itu bertindak seperti binatang.
Seperti saat ini, di malam yang tak bisa dikatakan ‘malam yang tenang’, disuatu sudut di desa terpencil. Rumah megah yang entah bagimana bisa berdiri di sana yang bahkan pasokan air jernih saja sangat sulit didapat. Ya,di sebuah mansion serba putih yang mampu menampung puluhan orang didalamnya itu, terlihat seseorang sedang berjuang diambang hidup dan mati. Sangat mengherankan memang, mansion sebesar itu hanya terdapat seorang wanita paruh baya. Terdengar erangan-erangan yang memilukan juga sangat menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Sayangnya tidak ada satupun orang yang mendengar erangan penuh derita itu. Peluh membanjiri seluruh tubuhnya, nafas tersengal yang sudah tak beraturan lagi, dan juga ceceran liquid kental berwarna merah menghiasi ruangan yang suram itu. Dan tak lama kemudian, sebuah tangisan bayi muncul menghiasi malam badai tersebut…


Jakarta, 19 Maret 2015
          Hari ini patutnya menjadi hari yang paling dinanti-nanti oleh sebagian besar pelajar dan juga para orang tua mereka. Hari penerimaan siswa baru. Dimana ada ratusan nama yang terpajang di dinding putih polos di depan pintu masuk sekolah elit nan megah tersebut, tanda bahwa pemilik nama-nama itu adalalah segelintir anak yang beruntung bisa diterima di sekolah ini. Dan ratusan pula yang hanya bisa menelan kekecewaan saat tak dijumpai nama mereka yang terpampang di. Kerumunan itu sangatlah gaduh dan sepertinya mereka tidak pernah tau apa arti tata karma dan tulisan ‘HARAP TENANG’ yang terpampang jelas di gerbang masuk sekolah megah tersebut.
Disanalah, ada seorang lelaki pucat berdiri tak jauh dari kerumunan itu. Berusaha melangkah dalam diam dan ajaibnya kerumunan berisik itu seolah membelah dan memberi jalan mudah bagi si pucat ini untuk masuk. Entah aura hitamnya yang terlampau menyeramkan atau memang hanya kebetulan? Sepertinya opsi kedua lebih bisa diterima mengingat dia hanya manusia pucat berpakaian lusuh. Ditelusuri nama itu satu persatu, sengaja ia mencari dari deretan paling bawah, kenapa? Karena ia sama sekali tak berharap akan masuk di bangunan membosankan ini, well apalagi terdaftar dengan status murid.
          Matanya tak henti-henti men-scanning daftar ratusan nama itu. Tak kunjung ditemukan juga nama anak pucat dengan rambut tak terurus ini, ia mulai bosan. Baru saja ia langkahkan kaki jenjangnya yang bersepatu kets buluk, tiba-tiba ada yang memanggil atau lebih tepatnya menyebut nama si anak pucat.
“Daniel Lucas?”
Sontak ia menoleh sekedar memastikan siapa yang dengan berani menyebut namanya. Tahu darimana dia? Ia pun mengalihkan pandangannya kesana-kemari tapi tak kunjung juga ditemui siapapun yang sedang berbicara atau sekedar melihat ke arahnya. Halusinasi ya? Oh baiklah, sebaiknya kau tingkatkan saja dosis obat tidurmu malam ini, anak pucat!
“Yaaak siapa itu Daniel Lucas?” Kali ini suara itu terdengar lebih keras dan juga… lebih menuntut. Oh bukan halusinasi...
“Aku” Jawabnya sekenanya dan mencari siapa yang berani cari masalah dengannya, kalaupun orang-orang disekitar nya tau, anak seperti apa Daniel Lucas ini, mungkin saja mereka akan lari tunggang langgang dan mengurung diri di rumah seumur hidup. Setidaknya itu opsi yang lebih baik daripada bertemu sosok pucat ini. Seseorang itu menghadap Lucas dan mendongakkan kepalanya. Seorang gadis pendek berkulit putih dan juga rambut panjang yang tergerai lurus sedang menatapnya sengit, dan hanya dibalas dengan tatapan datar oleh si anak pucat. Atau sekarang kita bisa menyebutnya, Lucas.
“……” Gadis cari masalah itu masih menatapnya sengit seperti tadi dan Lucas mulai jengah dengan suasana ini, ia alihkan perhatiannya pada daftar nama yang ada di belakang tubuh gadis pendek ini. Pandangan matanya langsung tertuju pada deretan nama teratas.
DANIEL LUCAS      “DITERIMA”
Great! Ia harus masuk sekolah bodoh ini. Tes konyol berkedok pertanyaan super sulit yang bahkan di kerjakannya asal-asalan saja bisa membuahkan hasil se-gila ini, pikirnya. Dan lagi perempun pendek ini masih saja memandanginya dengan tatapan sengit. Berani juga anak ini, sebaiknya kau hati-hati nak.
‘Aku bisa saja mencongkel matamu satu persatu tau, lalu menjadikannya gantungan kunci atau aku pasang sebagai hiasan di kotak pensilku? Ah, mungkin akan lebih bagus kalau kujadikan makanan anjing’. Begitu pikir Lucas. Bahkan pemikiran sekelebat anak ini saja sudah terlampau tidak umum untuk seorang anak pucat berumur 15 tahun.
          Jengah dengan gadis pendek menyebalkan yang ada dihadapannya, Lucas pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Lelaki pucat itu berjalan menjauhi gerbang sekolah megah ini dalam keheningan dan aura kelam. Gadis yang tadi menatapnya sengit pun hanya mengernyitkan dahinya bingung sambil berujar.
“Menarik sekali, akhirnya kutemukan juga mainanku. AHAHAHAHAHAHAA….”
Gadis itu pun pergi tanpa memperdulikan orang-orang yang menatapnya aneh sambil berlari-lari kecil juga sambil melompat-lompat di sepanjang trotoar. Tawa dan kata-kata aneh pun tak jarang keluar dari mulut mungilnya, seperti..
“Mainann..mainaaann… aku dapat mainan baruu.. Hihihih Hahahhaa”
“Aku mau mainan itu jadi milikku..”
“Tidak mau..itu milikku”
“Ahahahahaaaa ayah..ibu.. aku akan menunjukkan mainanku pada kalian hihihihihi”
Tanpa gadis itu sadari, ada seorang pria jangkung yang dari tadi memperhatikannya. Sosok itu menyunggingkan senyum misterius sekaligus menakutkan sambil bergumam.
“Akan kuantarkan mainanmu itu sayangku…”



TBC
Maaf kependekan yaaa. Peaceeeee ^_^v . Baru pertama kali ada niatan buat cerita trus publish di sosmed :D. Duh jelek bin aneh banget sih ni cerita heuhhh -_- Maklum author masih baru, baru banget malah. Berharap banyak sih bakal ada yang baca nih cerita gaje ehehe. Sebenernya aku bikin cerita ini buat seseorang yang kapan lalu minta aku buat bikin ff. Sebenernya juga pertama nya pengen bikin ff dengan cast favorit saya dan juga gender sesuka saya. Ehem.. tapi ga memungkinkan di publish disini.. Hihihihihihihhi *ketawa setan. Makasih kalo udah meluangkan waktu buat baca. Oiya jadi sebenernya mereka ini mengidap penyakit serius yang ga memungkinkan untuk mereka bisa pahm tentang apa yang dinamakan cinta(?) Mulek banget. Yaaa gitu deh pokoknya :D… Byebye see ya on next chapter muahhh *huweeekk


         

         
                             

3 komentar:

  1. Aaaaaaaaa, sadiiiisss T_T
    Jangan bikin yang sadis dong hyyuung
    하지만...
    최고 최고 !!!
    Ditunggu kelanjutannya thoorr wkwkkwkw (9^o^)9 ^^

    BalasHapus