Title : GEEK BOY
Main Cast : Lucas (boy) x Elisa
(girl)
Genre : Angst, Crime (?), Romance
(dikit)
Summary : Menjadi laki-laki geek
artinya kau adalah laki-laki terlemah di sekolah ini. Pembully-an, siksaan, dan
hukuman akan terus menghantuimu. “Dasar lemah!”. “Ampuuun
kumohon…ma-maaf..kan.. a-akuu”. “Pergi sana! Memuakkan! Mengganggu pemandangan
saja!”. “Maaf saja, aku tak tertarik denganmu”. “Dorr…dorr…”.
“Aaaaaaaarrghhh………” “Jangan matiiiii……” Kisah cinta yang aneh terjadi antara
dua orang pengidap penyakit serius. Akankah mereka bisa mengerti kata yang tabu
bagi mereka seperti cinta dan kasih sayang? Bisakah mereka bersatu?
GEEK BOY
PERTEMUAN PERTAMA
Belanda, 27 Januari 2000. 00:00 PM
Malam
yang kelam. Ditemani sinar rembulan yang hangat, namun disertai angin dan badai
maha dahsyat. Kala itu langit menangis dengan kuatnya. Petir menyambar dengan
bengisnya. Seolah langit bernafsu ingin menghancurkan apa yang ada di bawahnya.
Ya, bumi yang sudah sangat tua ini. Juga yang telah menyediakan tempat bagi
berbagai macam manusia dan makhluk lainnya, yang diantaranya ada pula
manusia-manusia licik yang tak bermoral, berdarah dingin, dan juga kejam. Tapi, kejamnya mereka pun bukan
tanpa alasan. Masa lalu yang kelam, dan tak kalah bengis itulah yang mendorong
manusia-manusia keji itu bertindak seperti binatang.
Seperti
saat ini, di malam yang tak bisa dikatakan ‘malam yang tenang’, disuatu sudut
di desa terpencil. Rumah megah yang entah bagimana bisa berdiri di sana yang
bahkan pasokan air jernih saja sangat sulit didapat. Ya,di sebuah mansion serba
putih yang mampu menampung puluhan orang didalamnya itu, terlihat seseorang
sedang berjuang diambang hidup dan mati. Sangat mengherankan memang, mansion
sebesar itu hanya terdapat seorang wanita paruh baya. Terdengar erangan-erangan
yang memilukan juga sangat menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Sayangnya
tidak ada satupun orang yang mendengar erangan penuh derita itu. Peluh
membanjiri seluruh tubuhnya, nafas tersengal yang sudah tak beraturan lagi, dan
juga ceceran liquid kental berwarna merah menghiasi ruangan yang suram itu. Dan
tak lama kemudian, sebuah tangisan bayi muncul menghiasi malam badai tersebut…
Jakarta, 19 Maret 2015
Hari ini patutnya menjadi hari yang paling dinanti-nanti oleh
sebagian besar pelajar dan juga para orang tua mereka. Hari penerimaan siswa
baru. Dimana ada ratusan nama yang terpajang di dinding putih polos di depan
pintu masuk sekolah elit nan megah tersebut, tanda bahwa pemilik nama-nama itu
adalalah segelintir anak yang beruntung bisa diterima di sekolah ini. Dan
ratusan pula yang hanya bisa menelan kekecewaan saat tak dijumpai nama mereka
yang terpampang di. Kerumunan itu sangatlah gaduh dan sepertinya mereka tidak
pernah tau apa arti tata karma dan tulisan ‘HARAP TENANG’ yang terpampang jelas
di gerbang masuk sekolah megah tersebut.
Disanalah,
ada seorang lelaki pucat berdiri tak jauh dari kerumunan itu. Berusaha
melangkah dalam diam dan ajaibnya kerumunan berisik itu seolah membelah dan
memberi jalan mudah bagi si pucat ini untuk masuk. Entah aura hitamnya yang
terlampau menyeramkan atau memang hanya kebetulan? Sepertinya opsi kedua lebih
bisa diterima mengingat dia hanya manusia pucat berpakaian lusuh. Ditelusuri nama
itu satu persatu, sengaja ia mencari dari deretan paling bawah, kenapa? Karena
ia sama sekali tak berharap akan masuk di bangunan membosankan ini, well
apalagi terdaftar dengan status murid.
Matanya
tak henti-henti men-scanning daftar ratusan
nama itu. Tak kunjung ditemukan juga nama anak pucat dengan rambut tak terurus
ini, ia mulai bosan. Baru saja ia langkahkan kaki jenjangnya yang bersepatu
kets buluk, tiba-tiba ada yang memanggil atau lebih tepatnya menyebut nama si
anak pucat.
“Daniel Lucas?”
Sontak ia menoleh sekedar
memastikan siapa yang dengan berani menyebut namanya. Tahu darimana dia? Ia pun
mengalihkan pandangannya kesana-kemari tapi tak kunjung juga ditemui siapapun
yang sedang berbicara atau sekedar melihat ke arahnya. Halusinasi ya? Oh
baiklah, sebaiknya kau tingkatkan saja dosis obat tidurmu malam ini, anak
pucat!
“Yaaak siapa itu Daniel Lucas?”
Kali ini suara itu terdengar lebih keras dan juga… lebih menuntut. Oh bukan
halusinasi...
“Aku” Jawabnya sekenanya dan
mencari siapa yang berani cari masalah dengannya, kalaupun orang-orang
disekitar nya tau, anak seperti apa Daniel Lucas ini, mungkin saja mereka akan
lari tunggang langgang dan mengurung diri di rumah seumur hidup. Setidaknya itu
opsi yang lebih baik daripada bertemu sosok pucat ini. Seseorang itu menghadap
Lucas dan mendongakkan kepalanya. Seorang gadis pendek berkulit putih dan juga
rambut panjang yang tergerai lurus sedang menatapnya sengit, dan hanya dibalas
dengan tatapan datar oleh si anak pucat. Atau sekarang kita bisa menyebutnya,
Lucas.
“……” Gadis cari masalah itu masih
menatapnya sengit seperti tadi dan Lucas mulai jengah dengan suasana ini, ia
alihkan perhatiannya pada daftar nama yang ada di belakang tubuh gadis pendek
ini. Pandangan matanya langsung tertuju pada deretan nama teratas.
DANIEL LUCAS “DITERIMA”
Great! Ia harus masuk sekolah
bodoh ini. Tes konyol berkedok pertanyaan super sulit yang bahkan di
kerjakannya asal-asalan saja bisa membuahkan hasil se-gila ini, pikirnya. Dan
lagi perempun pendek ini masih saja memandanginya dengan tatapan sengit. Berani
juga anak ini, sebaiknya kau hati-hati nak.
‘Aku bisa saja mencongkel matamu
satu persatu tau, lalu menjadikannya gantungan kunci atau aku pasang sebagai
hiasan di kotak pensilku? Ah, mungkin akan lebih bagus kalau kujadikan makanan
anjing’. Begitu pikir Lucas. Bahkan pemikiran sekelebat anak ini saja sudah
terlampau tidak umum untuk seorang anak pucat berumur 15 tahun.
Jengah
dengan gadis pendek menyebalkan yang ada dihadapannya, Lucas pergi tanpa
meninggalkan sepatah kata pun. Lelaki pucat itu berjalan menjauhi gerbang
sekolah megah ini dalam keheningan dan aura kelam. Gadis yang tadi menatapnya
sengit pun hanya mengernyitkan dahinya bingung sambil berujar.
“Menarik sekali, akhirnya
kutemukan juga mainanku. AHAHAHAHAHAHAA….”
Gadis itu pun pergi tanpa
memperdulikan orang-orang yang menatapnya aneh sambil berlari-lari kecil juga
sambil melompat-lompat di sepanjang trotoar. Tawa dan kata-kata aneh pun tak
jarang keluar dari mulut mungilnya, seperti..
“Mainann..mainaaann… aku dapat
mainan baruu.. Hihihih Hahahhaa”
“Aku mau mainan itu jadi
milikku..”
“Tidak mau..itu milikku”
“Ahahahahaaaa ayah..ibu.. aku
akan menunjukkan mainanku pada kalian hihihihihi”
Tanpa gadis itu sadari, ada
seorang pria jangkung yang dari tadi memperhatikannya. Sosok itu menyunggingkan
senyum misterius sekaligus menakutkan sambil bergumam.
“Akan kuantarkan mainanmu itu
sayangku…”
TBC
Maaf kependekan yaaa. Peaceeeee
^_^v . Baru pertama kali ada niatan buat cerita trus publish di sosmed :D. Duh
jelek bin aneh banget sih ni cerita heuhhh -_- Maklum author masih baru, baru
banget malah. Berharap banyak sih bakal ada yang baca nih cerita gaje ehehe.
Sebenernya aku bikin cerita ini buat seseorang yang kapan lalu minta aku buat
bikin ff. Sebenernya juga pertama nya pengen bikin ff dengan cast favorit saya
dan juga gender sesuka saya. Ehem.. tapi ga memungkinkan di publish disini..
Hihihihihihihhi *ketawa setan. Makasih kalo udah meluangkan waktu buat baca.
Oiya jadi sebenernya mereka ini mengidap penyakit serius yang ga memungkinkan
untuk mereka bisa pahm tentang apa yang dinamakan cinta(?) Mulek banget. Yaaa
gitu deh pokoknya :D… Byebye see ya on next chapter muahhh *huweeekk
Aaaaaaaaa, sadiiiisss T_T
BalasHapusJangan bikin yang sadis dong hyyuung
하지만...
최고 최고 !!!
Ditunggu kelanjutannya thoorr wkwkkwkw (9^o^)9 ^^
wkwkwk aaaaa gimana yaaaa~ :3 XD
Hapusmakasiiihh uda bacaaa
Wkwkkwkwkwkwk :D
Hapus